Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, M.T saat memberikan keterangan (foto/istimewa)


SUARANUSRA.COM - Memasuki puncak musim kemarau 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur menetapkan status siaga darurat kekeringan untuk menghadapi ancaman dampak El Nino. 

Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, menyatakan bahwa hingga saat ini status masih dalam tahap siaga darurat dan belum dinaikkan ke tanggap darurat.

“Terkait dengan puncak musim kemarau, baik untuk air bersih maupun pertanian, saat ini kita di tahap siaga darurat. Masih aman, belum ke tahap tanggap darurat,” ujar Lalu Mulyadi. Kamis (30/07/2026)

Lanjut dia, BPBD telah memetakan 8 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan, yakni Keruak, Jerowaru, Sakra Timur, Sambelia, Sembalun, Pringgabaya, Suela, dan Wanasaba. Namun pihaknya tidak menutup kemungkinan jumlah kecamatan rawan bertambah hingga 11 kecamatan.

“Dari 8 kecamatan rawan, baru Jerowaru yang sudah melaporkan di dua desa, yakni Sekaroh dan Seriwe. Tapi kita tidak menutup kemungkinan di bulan Agustus-September ini kita akan naikkan status menjadi tanggap darurat,” jelasnya.

Terkait itu, diakui pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam penanganan kekeringan, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Dinas Damkar-Mat hingga PDAM.

Terlepas dari itu, pihaknya telah melakukan beberapa langkah antisipasi diantaranya pendistribusian air bersih ke sejumlah titik rawan, termasuk Dusun Keselet, Kecamatan Montong Gading, yang dilakukan bersama ibu Bupati Lombok Timur.

"Kamu juga sudah bekerjasama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mendistribusikan air ke Sekaroh, Kecamatan Jerowaru," paparnya seraya mengatakan SPAM Pantai Selatan dinilai sangat berpengaruh dalam pemenuhan air bersih di wilayah selatan, seperti di Desa Batu Nampar.

BPBD juga menyiapkan 5 mobil tangki yang siap beroperasi setiap hari dan dapat mengerahkan hingga 30 mobil tangki jika kebutuhan di lapangan meningkat.

Di sisi lain, pihaknya juga terus menggencarkan pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai upaya mitigasi jangka panjang. 

Saat ini telah terbentuk 60 desa tangguh bencana. Tahun ini, BPBD berencana membentuk desa tangguh bencana di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) seperti Gili Maringkik dan Desa Medayin.

“Indikator utama pembentukan Destana adalah kerentanan bencana dan kapasitas desa, terutama SDM-nya. Maka dari itu kami lakukan beberapa kegiatan peningkatan kompetensi untuk itu,” pungkas Lalu Mulyadi. (SN/03)