SUARANUSRA.COM -  Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan dan peningkatan mutu pendidikan, terasa pahit bagi para siswa dan guru di SDN 5 Kotaraja, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. 

Alih-alih merayakan semangat belajar, mereka justru berjuang melawan genangan air di ruang kelas setiap kali hujan turun.

Kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung lama. Sejumlah ruang kelas di sekolah dasar tersebut mengalami kebocoran parah. Ketika hujan deras mengguyur, air dengan mudah merembes dan masuk ke dalam kelas, menggenangi lantai sehingga memaksa siswa belajar dalam kondisi basah dan tidak nyaman.

“Setiap hujan, pasti tergenang. Anak-anak terpaksa duduk dengan was-was, buku dan tas harus diangkat agar tidak basah. Ini jelas mengganggu proses belajar mengajar dan membahayakan keselamatan mereka,” ungkap seorang sumber di lingkungan sekolah, Sabtu (02/05/2026).

Yang lebih menyakitkan, ironi ini terjadi di tengah janji manis yang belum terealisasi. Sekolah ini sebelumnya dijanjikan akan mendapatkan bantuan rehabilitasi melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pada masa kepemimpinan Kepala Dinas Pendidikan sebelumnya, Izzuddin. 

Namun, setelah terjadi pergantian kepemimpinan, realisasi bantuan tersebut hingga kini masih menjadi misteri. Janji yang dulu membawa harapan kini hanya tinggal janji tanpa kepastian.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah SDN 5 Kotaraja, Lalu Zohdi, buka suara. Ia meminta pemerintah daerah untuk tidak abai, khususnya di momen Hardiknas yang sarat makna refleksi.

“Jangan sampai peringatan Hari Pendidikan hanya menjadi seremonial tahunan. Kami di sini butuh bukti nyata, bukan sekadar janji. Kami butuh ruang kelas yang layak agar anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman,” tegas Lalu Zohdi dengan nada getir.

Kondisi SDN 5 Kotaraja menjadi potret buram pemerataan fasilitas pendidikan di daerah. Di saat berbagai pihak sibuk menggaungkan slogan peningkatan kualitas dan inovasi pembelajaran, fakta di lapangan masih menunjukkan ada siswa yang terpaksa berjuang melawan banjir air hujan di kelasnya sendiri.

Momentum Hardiknas mestinya menjadi pengingat kolektif, bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari angka atau wacana semata, tetapi dari sejauh mana negara hadir dan memastikan setiap anak bangsa mendapatkan ruang belajar yang layak, aman, dan humanis. (SN/02)