Massa aksi saat berdialog dengan Sekretaris Daerah Lombok Timur (foto/istimewa)


SUARANUSRA.COM - Aksi unjuk rasa yang digelar oleh Aliansi Peduli Pariwisata Lombok Timur (Lotim) berakhir ricuh, Selasa (21/01/2026). Ratusan massa yang didominasi aktivis mahasiswa dari HMI berupaya mendobrak gerbang utama Kompleks Kantor Bupati Lombok Timur, sebelum akhirnya terjadi kericuhan dengan aparat gabungan kepolisian dan Satuan Pol PP.

Para pengunjuk rasa menuntut dua hal utama: pengembalian hak operasional destinasi wisata Sunrise Land Labuhan Haji kepada pengelola sebelumnya, serta pencopotan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Lotim dan Staf Khusus Bidang Pariwisata yang dinilai tidak bekerja optimal.

"Kami ingin destinasi Sunrise Land dikembalikan ke rakyat. Pengelolaan yang diambil oleh Dinas Pariwisata dilakukan tanpa koordinasi yang baik," teriak salah satu orator aksi, disambut sorakan massa.

Awalnya, massa menolak berdialog dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, H.M. Juaini Taofik, yang mewakili Bupati Haerul Warisin. Mereka bersikeras ingin bertemu langsung dengan Bupati. Namun, karena Bupati sedang melakukan inspeksi mendadak (sidak) di luar kantor, akhirnya Sekda Taofik diterima untuk berdialog.

"Secara resmi, saya didelegasikan oleh Bapak Bupati untuk menemui massa aksi," kata Taofik di hadapan massa.

Dalam dialog tersebut, Sekda Taofik berjanji akan menyampaikan seluruh aspirasi, termasuk tuntutan pencopotan pejabat, kepada Bupati untuk ditindaklanjuti. "Aspirasi adik-adik akan saya sampaikan dalam waktu secepatnya. Semua masukan soal pengelolaan wisata akan menjadi bahan evaluasi kami," jelasnya.

Namun, Taofik menegaskan bahwa keputusan akhir, termasuk mengenai evaluasi pejabat dan masalah Sunrise Land, harus melalui proses dan kebijakan Bupati. "Kami akan sampaikan ke Pak Bupati dan lakukan evaluasi. Kalau memang ada kesalahan yang dilakukan oleh Kadispar, kami akan evaluasi," ujarnya.

Ketegangan sempat memuncak saat terjadi saling dorong antara massa dan aparat keamanan. Satu orang mahasiswa sempat hendak diamankan karena dianggap memicu kegaduhan, namun akhirnya dikembalikan ke barisan demonstran setelah situasi mereda.

Aksi kemudian dibubarkan secara damai di bawah pengawasan aparat. Sekda Taofik menyatakan pintunya terbuka untuk pertemuan lanjutan secara non-formal. "Kalau adik-adik mau masuk ke ruangan saya, kapanpun saya persilakan," pungkasnya. (SN/02)