SUARANUSRA.COM - Institut Elkatari menyelenggarakan acara wisuda dengan cara yang unik. Lima orang perwakilan wisudawan terbaik diberikan 'sembeq buraq'
yang dipimpin oleh pengrakse MAS Dr. H. L. Sajim Sastrawan. 'Sembeq buraq' mengandung makna pemberkatan kepada para wisudawan.
Acara wisuda menjadi semakin semarak dengan kehadiran Gubernur NTB Dr. H. L. Mohammad Iqbal. Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal menyampaikan apresiasi atas kehadiran Institut Elkatarie yang memiliki kekhasan dengan mengintegrasikan nilai budaya dan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi keilmuan. Pendekatan tersebut menjadi pembeda penting bagi lulusan di tengah persaingan global.
“Perguruan tinggi harus memiliki diferensias atau pembeda. Lulusan yang keluar tanpa keunikan sulit mendapatkan tempat di masyarakat. Institut Elkatarie ini memiliki kekuatan karena mempertemukan ilmu agama dan budaya sebagai ilmu dasar,” ujarnya.
Gubernur menekankan lemahnya pembangunan keilmuan di Indonesia selama ini disebabkan oleh kurangnya penguatan ilmu dasar, seperti sosiologi, antropologi, dan sejarah. Padahal, ilmu-ilmu tersebut sangat penting dalam merumuskan kebijakan publik agar sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat.
"banyak kebijakan pembangunan gagal diterapkan karena minimnya kajian sosiologis dan antropologis, kami mendorong Institut Elkatarie untuk terus mengembangkan kajian budaya dan bahkan membuka program studi berbasis ilmu dasar" pungkas mantan Dubes Turki.
Rektor Institut Elkatarie, Dr. Asbullah Muslim mengawali sambutannya dengan mengajak wisudawan dan tamu undangan mengheningkan cipta mendoakan Aceh dan Sumatra. Dalam sambutannya rektor menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan melahirkan insan cerdas, tetapi juga manusia yang berakhlak dan berbudaya.
"Transformasi akhlak dalam perspektif budaya menjadi ciri khas Institut Elkatarie, yang diwujudkan melalui integrasi kurikulum keislaman, kearifan lokal, dan praktik budaya dalam proses akademik" ujar Abdullah.
Ia menambahkan bahwa Transformasi Akhlak merupakan kata kunci dalam pemajuan Sumberdaya Manusia.
Dalam acara wisuda ke-2 ini dihadiri pula oleh Kasubdin pengembangan akdemik pendidikan islam kemenag, Dr. A. Rafiq. Zainul Mun'im. Ia menjelaskan makna pergeseran tali.
"Dalam pergeseran tali dari kiri ke kanan ada phyloshophi pergeseran paradigma sebagai mahasiswa ke pengabdi, paradigma pergeseran dari otak kiri ke otak kanan. Ketika mahasiswa dituntut untuk menjawab soal-soal dikelas, setelah diwisuda dituntut untuk menjawab soal-soal kehidupan" ujar A. Rafiq.
Ia menambahkan bahwa Setiap diri adalah pemimpin. Yang utama adalah memimpin diri. Sendiri, memimpin setiap anggota tubuh, mampu mengajak dan mempengaruhi untuk mencapai kemajuan. Jadilah sebaik-baik manusia yaitu yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama. (SN/02)

Comments