Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi (foto/istimewa)


Oleh: Muhrim Rajasa


DALAM peta Pahlawan Nasional Indonesia, gugusan kepulauan Nusa Tenggara Barat kerap tampak redup. Seolah-olah gelora perjuangan dan pena sejarah hanya berpusat di Jawa, Sumatera, atau Sulawesi. Padahal, dari tanah Lombok, muncul nama-nama yang tak kalah gigih, salah satunya adalah Tuan Guru Haji (TGH.) Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi. Sosok yang bukan hanya ulama, tetapi juga arsitek peradaban yang pantas diajukan untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional.


Perjalanan hidup TGH. Mutawalli adalah mozaik perjuangan yang lengkap. Lahir dengan nama Imran pada 1921 di Jerowaru, Lombok Timur, pendidikannya dimulai dari sekolah rakyat Belanda (Volkschool), lalu melanjutkan ke pesantren Tuan Guru Haji Lalu Abdul Hafidz di Kediri, dan berlanjut ke tanah suci Mekah. Namun, yang membedakannya adalah bagaimana ia mentransformasikan ilmu yang diraihnya menjadi alat pembebasan dan pencerahan bagi masyarakatnya.


Kontribusinya bersifat multidimensi, menyentuh hampir semua aspek kehidupan. Di bidang pendidikan, ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Yatama Wal Masakin (DAYAMA) dan Lembaga Pendidikan Nahdlatul Awam. Ini bukan sekadar membangun gedung, melainkan membangun mercusuar ilmu yang melahirkan kader-kader ulama dan tokoh masyarakat. Di tengah masyarakat yang masih kuat dengan paham animisme, dinamisme, dan Islam Waktu Telu, pendekatannya adalah pencerahan melalui pendidikan, bukan konfrontasi.


Lebih dari itu, TGH. Mutawalli adalah seorang nation-builder di tingkat akar rumput. Ia turun langsung membangun jalan, jembatan, pasar rakyat, dan membuka lahan pertanian. Ini adalah bentuk nyata dari jihad sosial-ekonomi. Dalam bidang politik, keikutsertaannya dalam organisasi seperti Masyumi dan Golkar menunjukkan kesadarannya bahwa ruang politik adalah salah satu medan untuk mempengaruhi kebijakan bagi kemaslahatan umat.


Yang sering terlupakan dari narasi kepahlawanan adalah perlawanan non-fisik. TGH. Mutawalli adalah pejuang di garis ini. Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, ia menggunakan pendekatan pendidikan dan dakwah untuk membangun kesadaran kritis masyarakat menentang penjajahan dan ketidakadilan. Perlawanan melalui pemikiran dan pembangunan karakter ini seringkali lebih berkelanjutan dampaknya daripada sekadar pertempuran fisik. Bahkan, sejarah lisan mencatat perannya bersama tokoh selatan lainnya dalam menyerang markas Belanda di Karang Bedil, menunjukkan bahwa semangat juangnya tidak diragukan.


Warisan terbesarnya adalah penekanan pada keseimbangan antara ilmu agama, moralitas, dan cinta tanah air. Prinsip ukhuwah islamiyah dan wathaniyah (persaudaraan Islam dan kebangsaan) yang ia gaungkan sangat relevan hingga hari ini, menjadi penawar bagi radikalisme dan sektarianisme. Pepatahnya, “Undur-undur Sabuk Belo tetep betegel elek tuntun guri” (meski seperti undur-undur, asal tetap berjalan mengikuti guru), menggambarkan keteguhannya pada prinsip dan konsistensi dalam menuntun masyarakat.


Lantas, mengapa gelar Pahlawan Nasional penting untuknya?


Pertama, pengakuan ini adalah bentuk keadilan sejarah. Ia mengingatkan bangsa Indonesia bahwa kepahlawanan itu tersebar merata, tidak hanya terpusat. Lombok dan NTB memiliki tokoh-tokoh yang jasanya tidak kalah besar.


Kedua, ia merepresentasikan model kepahlawanan yang holistik. Ia bukan hanya pejuang bersenjata, tetapi juga pejuang pendidikan, pejuang sosial, dan pejuang ekonomi. Model seperti inilah yang dibutuhkan bangsa ini untuk membangun karakter di tengah tantangan global.


Ketiga, figurnya adalah simbol pemersatu. Sebagai ulama yang dihormati semua kalangan, pengangkatannya dapat memperkuat narasi Islam yang moderat, toleran, dan mencintai tanah air.


Wafatnya pada 1984 diiringi lautan manusia yang berduka, adalah bukti nyata betapa ia dicintai. Kini, adalah tugas kita, generasi penerus, dan terutama pemerintah, untuk memastikan bahwa jasanya tidak hanya dikenang dalam dongeng lokal, tetapi diukir dalam sejarah nasional. Mengusung TGH. Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar memenuhi daftar, melainkan memperkaya khazanah makna dari kata "pahlawan" itu sendiri. Ia adalah pahlawan yang membangun peradaban dari desa, dengan keteguhan hati sekuat batu lontar Lombok. (**)

**Semua data dan informasi yang dimuat dalam tulisan ini adalah tanggungjawab dari penulis