Sekretaris Sahabat Polisi Indonesia (SPI) NTB, Saiful Hadi (foto/istimewa)

SUARANUSRA.COM - Sekretaris Sahabat Polisi Indonesia (SPI) NTB, Saiful Hadi mendesak jajaran pemerintah daerah di Provinsi NTB untuk mengambil sikap atas masalah yang dialami oleh petani tembakau Virginia Lombok belakangan ini.

Dikatakan Saiful, pemerintah harus melakukan intervensi untuk menstabilkan harga jual tembakau yang anjlok belakangan ini. Padahal, biaya budidaya dan produksi petani alami pembengkakan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kami meminta Pemprov NTB dan Pemkab untuk intervensi harga tembakau ini. Karena  saat ini petani seolah dipermainkan dengan harga yang tak wajar, sehingga mereka merugi," katanya. Kamis (28/08/2025)

Lebih jauh, dia meminta pemerintah untuk menertibkan perusahaan tembakau ilegal yang bebas membeli tembakau petani dengan harga rendah.

Bila perlu tegas dia, Pemda menggandeng aparat penegak hukum (APH) untuk membentuk Satgas Terpadu dalam menertibkan perusahaan ilegal yang banyak beroperasi di wilayah Lombok Tengah dan Lombok Timur jika tetap membandel untuk beroperasi.

"Kami dari SPI mendukung Pemda dan kepolisian untuk membentuk Satgas Terpadu dalam memberantas perusahaan ilegal ini. Jangan sampai petani menjadi korban dari permainan kartel perusahaan ilegal ini," tegasnya.

Pada pemberitaan sebelumnya, salah satu  pimpinan perusahaan pembeli tembakau yang hadir dalam pertemuan dengan Bupati Lombok Timur, menyebut kemungkinan besar harga jual tembakau petani tahun ini akan alami penurunan sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan tahun 2024.

"Kemungkinan untuk harga akan turun 10 sampai 15 persen tahun ini," kata Tara.

Namun, Tara menekankan bahwa harga akhir sangat bergantung pada kualitas tembakau yang dihasilkan oleh para petani. Penurunan harga secara umum tidak berlaku mutlak jika kualitas tembakau terjaga dengan baik.

"Tapi sebenarnya harga tetap mengacu pada kualitas. Kalau kualitas bagus maka harga akan bagus," tegasnya. (SN/02)